Pengikut

Senin, 10 Desember 2012

cerpen


                Awal pertemuan itu begitu mengesankan. Kau tersenyum padaku dan mengatakan say hallo….! Memang aku tak mengira kau yang secantik itu sudi mengeluarkan suaramu yang merdu dan melebarkan sedikit bibrmu yang manis untuk senyum dan menyapa orang sepertiku. Aku kira ini sebuah keajaiban yang melancarkan sekejab aliran darrah di tubuhku. Aku masih tetap dengan sikap pendiam dan cuekku, meski itu kepada engkau yang secantik itu.
“Kau sedang menunggu seseorang?”.
Aku semakin tak percaya dia duduk tepat disampingku.
”Tidak”
“Lantas? Sedang apa?”
“Hanya duduk”
Aku sangat senang dia bicara padaku, tapi mengapa Tuhan aku tetap dengan kecuekanku??Rubah aku Tuhan, ada gadis secantik bidadari disampingku, aku terus bergumam dalam hati mengharap ada malaikat merubahku untuk menjadi pria sejati dalam hitungan detik.
“Oh???jalan-jalan pagi melihat lihat kereta lewat?”
“Tidak”
“Mau pergi?”
“Tidak juga”
“Kau pedagang asongan?” Gadis itu sedikit nyolot nada bicaranya.
“Apa????”
“Kau pedangan asongan mungkin??Jalan-jalan tidak,melihat-lihat kereta lewat tidak,ingin pergi juga tidak,Lantas kalau semua tidak, apa yang kamu lakukan sendirian di tempat umum seperti ini kalau bukan sebagai pedagang asongan yang menawarkan minuman dan permen ke semua calon penumpang disini??”
Oh Tuhan… gadis secantik itu mengira aku pedagang asongan?? Nilai minus untuk awal pertemuan super ajaib ini. Gadis secantik itu juga tidak bisa meruntuhkan sikap cuekku. Dia juga agak bikin aku kesel dengan celoteh pertanyaan yang terdengar sok akrab, tapi sebetulnya dalam hatiku sangat senang dapat dihampiri bidadari kayangan seperti dia.
“Kau banyak omong, aku satu kata kau berjuta kata”
“Berjuta kata terlontar jika tidah adanya satu kata”
“kau membantahku??”
“kau pantas dibantah”
“Mengapa?”
“Aku menyapa kamu, kamu hanya diam menggerak-gerakkan matamu kearahku, emmm……. Aku tak bisa memahami bahasa tubuh seseorang, barangkali kamu mau mengajariku??”
Dia terlihat ingin melanjutkan alasannya mengapa aku pantas dibantah olehnya, tapi tiba-tiba dia langsung mengalihkan pembicaranya, membuatku semakin penasaran.
Gadis itu tidak hanya cantik tapi dia pintar, pintar mengolah kata yang bisa memanipulasi orang yang sedang bicara dengannya. Mugkin jika tidak lihai mengimbangi bicaranya kau akan merasa tertindas dan tercambuk badai perang di sebuah gurun tak berair.
“Aku tak menyuruhmu memperhatikan dan mengartikan gaya tubuhku”
Aku sangat ingin lama mengobrol dengan gadis cantik itu, namun dia keburu memalingkan wajahnya kepada seorang nenek-nenek tua yang terlihat kebingungan mencari-caari sesuatu didalam tasnya.
“Aku tahu itu”
Setelah kata itu dia langsung menjauh dua kursi dari kursi yang dia duduki disampingku.
Aku perhatikan dia terus ketika dia menghampiri nenek itu sampai dia membantu nenek itu mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia berbeda, berbeda dengan kebanyakan gadis yang ada. Dia memang cantik umumnya gadis-gadis di kota ini, tapi dia berkarakter. Dia mampu menunjukan innerbeautynya kepada setiap orang yang berbicara dan bahkan hanya melihat paras ayunya. Aku memahami dia hanya dalam beberapa jam, apakah itu benar??? \
“Kayaknya dia…..suara,naada bicara,sikap, tak begitu asing dan sangaat familiar, aku merasa mengenal dia sudah lama” ucapku pelan dengan tak memalingkan pandangan dari gadis cantik itu.
Tiba-tiba pundakku terasa ada yang menepuk.
“Don…mengagetkan saja”
“Melihat apa sih kok serius amat kamu?”
“Don…ada cewek tadi”
“Arsya????kamu bilang cewek????”
Doni seketika terkejut ketika aku bicara cewek, maklum sepeninggal pacarku yang pertama dan terakhir itu aku sudah tidak pernah bicara sedikitpun masalah cewek. Aku memang sangat terpukul dan masih tak percaya akan kejadian empat tahun silam. Waktu itu ketika aku masih duduk dibangku SMA kelas satu, aku mempunyai pacar, dia pacar pertamaku yang menurutku sangat special jadi seorang cewek. Dia yang bisa membuat aku lupa akan sifat cuek dan pendiamku. Mungkin waktu itu terasa semua hanya cinta monyet, tapi cinta monyet itu hingga kini masih sangat susah buat tergantikan, buat melupakan saja sangat susah hingga saat ini. Aku bertemu Arletta pada saat pendaftaran siswa baru di SMA ku. Semua serba diperankan dan di sutradarai layaknya film yang di luncurkan oleh perusahaan perfilman yang mengangkat kisah perkenalan anak muda yang digemari untuk di tonton oleh beribu anak-anak muda di dunia. Itulah penafsiran yang cukup pantas menggambarkan pertemuan dan perkenalan pertamaku dengan Arletta. Sehari setelah pengumuman penerimaan siswa baru aku mulai memasuki lingkungan SMA baru itu dengan tetap mengenakan atribut putih biruku(seragam SMP). Seingatku yang diterima sekitar ada 9 ruang dengan masing-masing 35 siswa setiap ruangnya. Aku mulai menusuri koridor-koridor bersama Doni sahabatku sejak duduk di bangku SMP menuju ruang MOS kita. Kita masih sangat culun dan polos saat situ sehingga seperti kebanyakan kakak-kakak OSIS  yang lehih senior yaitu memgerjai siswa baru saat MOS, dan apesnya diriku begitu sering jadi objek permainan mereka. Tepat ketika aku dan Doni di muka pintu bel berbunyi. Menandakan waktu-waktu mendebarkan datang, kami akan mengikuti serangkaian kegiatan layaknya ada disebuah kehidupan tikus dimana kita akan disuruh-suruh, kita akan berlarian ketika ada monster datang untuk memaksa kita melakukan sesuatu yang kita tak pernah menyukainya sebelumnya.
“Ayo ayo segera masuk semua……!!! Duduk pada masing-masing bangku yang telah tertera nama kalian. Ayo cepat, tidak pakek lama……!!!” ucap kakak-kakak OSIS yang menjadi kakak penjaga di ruanganku. Aku duduk berdampingan dengan seorang gadis dari luar kota. Dia cantik, dia murah senyum, pandai bergaul dan sering membantu aku ketika kakak-kakak OSIS menghukumku. Namanya Gea Andrista, seorang anak pejabat dari luar kota yang ditugaskan di kota ini,tapi sayang karena dia sering membantuku itu yang menyebabkan kakak-kakak OSIS, terutama yang cowok menghukumku. Mereka pikir si gadis cantik itu tertarik pada cowok pecundang seperti aku, maklum Gea banyak di taksir oleh kakak-kakak OSIS cowok. Sempat ketika aku disuruh maju kedepan untuk membawakan lagu rock dengan tarian sinden Gea membantu aku dengan membantah kakak-kakak OSIS untuk melakukannya dahulu setelah itu baru aku yang menjalankan hukumanku. Akhirnya karena Gea aku tak pernah menyanyikan lagu rock dengan tarian sinden yang sangat konyol menurutku.
Dengan kejadian itu kakak-kakak OSIS semakin semgat untuk mengerjaiku    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar