Awal pertemuan itu begitu
mengesankan. Kau tersenyum padaku dan mengatakan say hallo….! Memang aku tak
mengira kau yang secantik itu sudi mengeluarkan suaramu yang merdu dan
melebarkan sedikit bibrmu yang manis untuk senyum dan menyapa orang sepertiku. Aku
kira ini sebuah keajaiban yang melancarkan sekejab aliran darrah di tubuhku.
Aku masih tetap dengan sikap pendiam dan cuekku, meski itu kepada engkau yang
secantik itu.
“Kau
sedang menunggu seseorang?”.
Aku
semakin tak percaya dia duduk tepat disampingku.
”Tidak”
“Lantas?
Sedang apa?”
“Hanya
duduk”
Aku
sangat senang dia bicara padaku, tapi mengapa Tuhan aku tetap dengan
kecuekanku??Rubah aku Tuhan, ada gadis secantik bidadari disampingku, aku terus
bergumam dalam hati mengharap ada malaikat merubahku untuk menjadi pria sejati
dalam hitungan detik.
“Oh???jalan-jalan
pagi melihat lihat kereta lewat?”
“Tidak”
“Mau
pergi?”
“Tidak
juga”
“Kau
pedagang asongan?” Gadis itu sedikit nyolot nada bicaranya.
“Apa????”
“Kau
pedangan asongan mungkin??Jalan-jalan tidak,melihat-lihat kereta lewat
tidak,ingin pergi juga tidak,Lantas kalau semua tidak, apa yang kamu lakukan
sendirian di tempat umum seperti ini kalau bukan sebagai pedagang asongan yang
menawarkan minuman dan permen ke semua calon penumpang disini??”
Oh Tuhan…
gadis secantik itu mengira aku pedagang asongan?? Nilai minus untuk awal
pertemuan super ajaib ini. Gadis secantik itu juga tidak bisa meruntuhkan sikap
cuekku. Dia juga agak bikin aku kesel dengan celoteh pertanyaan yang terdengar
sok akrab, tapi sebetulnya dalam hatiku sangat senang dapat dihampiri bidadari
kayangan seperti dia.
“Kau
banyak omong, aku satu kata kau berjuta kata”
“Berjuta
kata terlontar jika tidah adanya satu kata”
“kau
membantahku??”
“kau
pantas dibantah”
“Mengapa?”
“Aku
menyapa kamu, kamu hanya diam menggerak-gerakkan matamu kearahku, emmm……. Aku tak
bisa memahami bahasa tubuh seseorang, barangkali kamu mau mengajariku??”
Dia
terlihat ingin melanjutkan alasannya mengapa aku pantas dibantah olehnya, tapi
tiba-tiba dia langsung mengalihkan pembicaranya, membuatku semakin penasaran.
Gadis
itu tidak hanya cantik tapi dia pintar, pintar mengolah kata yang bisa
memanipulasi orang yang sedang bicara dengannya. Mugkin jika tidak lihai
mengimbangi bicaranya kau akan merasa tertindas dan tercambuk badai perang di
sebuah gurun tak berair.
“Aku
tak menyuruhmu memperhatikan dan mengartikan gaya tubuhku”
Aku
sangat ingin lama mengobrol dengan gadis cantik itu, namun dia keburu
memalingkan wajahnya kepada seorang nenek-nenek tua yang terlihat kebingungan
mencari-caari sesuatu didalam tasnya.
“Aku
tahu itu”
Setelah
kata itu dia langsung menjauh dua kursi dari kursi yang dia duduki disampingku.
Aku
perhatikan dia terus ketika dia menghampiri nenek itu sampai dia membantu nenek
itu mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia berbeda, berbeda dengan kebanyakan
gadis yang ada. Dia memang cantik umumnya gadis-gadis di kota ini, tapi dia
berkarakter. Dia mampu menunjukan innerbeautynya kepada setiap orang yang
berbicara dan bahkan hanya melihat paras ayunya. Aku memahami dia hanya dalam
beberapa jam, apakah itu benar??? \
“Kayaknya
dia…..suara,naada bicara,sikap, tak begitu asing dan sangaat familiar, aku
merasa mengenal dia sudah lama” ucapku pelan dengan tak memalingkan pandangan
dari gadis cantik itu.
Tiba-tiba
pundakku terasa ada yang menepuk.
“Don…mengagetkan
saja”
“Melihat
apa sih kok serius amat kamu?”
“Don…ada
cewek tadi”
“Arsya????kamu
bilang cewek????”
Doni
seketika terkejut ketika aku bicara cewek, maklum sepeninggal pacarku yang
pertama dan terakhir itu aku sudah tidak pernah bicara sedikitpun masalah
cewek. Aku memang sangat terpukul dan masih tak percaya akan kejadian empat
tahun silam. Waktu itu ketika aku masih duduk dibangku SMA kelas satu, aku
mempunyai pacar, dia pacar pertamaku yang menurutku sangat special jadi seorang
cewek. Dia yang bisa membuat aku lupa akan sifat cuek dan pendiamku. Mungkin
waktu itu terasa semua hanya cinta monyet, tapi cinta monyet itu hingga kini
masih sangat susah buat tergantikan, buat melupakan saja sangat susah hingga saat
ini. Aku bertemu Arletta pada saat pendaftaran siswa baru di SMA ku. Semua
serba diperankan dan di sutradarai layaknya film yang di luncurkan oleh
perusahaan perfilman yang mengangkat kisah perkenalan anak muda yang digemari
untuk di tonton oleh beribu anak-anak muda di dunia. Itulah penafsiran yang
cukup pantas menggambarkan pertemuan dan perkenalan pertamaku dengan Arletta.
Sehari setelah pengumuman penerimaan siswa baru aku mulai memasuki lingkungan
SMA baru itu dengan tetap mengenakan atribut putih biruku(seragam SMP).
Seingatku yang diterima sekitar ada 9 ruang dengan masing-masing 35 siswa
setiap ruangnya. Aku mulai menusuri koridor-koridor bersama Doni sahabatku
sejak duduk di bangku SMP menuju ruang MOS kita. Kita masih sangat culun dan
polos saat situ sehingga seperti kebanyakan kakak-kakak OSIS yang lehih senior yaitu memgerjai siswa baru
saat MOS, dan apesnya diriku begitu sering jadi objek permainan mereka. Tepat
ketika aku dan Doni di muka pintu bel berbunyi. Menandakan waktu-waktu mendebarkan
datang, kami akan mengikuti serangkaian kegiatan layaknya ada disebuah
kehidupan tikus dimana kita akan disuruh-suruh, kita akan berlarian ketika ada
monster datang untuk memaksa kita melakukan sesuatu yang kita tak pernah menyukainya
sebelumnya.
“Ayo
ayo segera masuk semua……!!! Duduk pada masing-masing bangku yang telah tertera
nama kalian. Ayo cepat, tidak pakek lama……!!!” ucap kakak-kakak OSIS yang
menjadi kakak penjaga di ruanganku. Aku duduk berdampingan dengan seorang gadis
dari luar kota. Dia cantik, dia murah senyum, pandai bergaul dan sering
membantu aku ketika kakak-kakak OSIS menghukumku. Namanya Gea Andrista, seorang
anak pejabat dari luar kota yang ditugaskan di kota ini,tapi sayang karena dia
sering membantuku itu yang menyebabkan kakak-kakak OSIS, terutama yang cowok
menghukumku. Mereka pikir si gadis cantik itu tertarik pada cowok pecundang
seperti aku, maklum Gea banyak di taksir oleh kakak-kakak OSIS cowok. Sempat
ketika aku disuruh maju kedepan untuk membawakan lagu rock dengan tarian sinden
Gea membantu aku dengan membantah kakak-kakak OSIS untuk melakukannya dahulu
setelah itu baru aku yang menjalankan hukumanku. Akhirnya karena Gea aku tak
pernah menyanyikan lagu rock dengan tarian sinden yang sangat konyol menurutku.
Dengan
kejadian itu kakak-kakak OSIS semakin semgat untuk mengerjaiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar