Pengikut

Senin, 10 Desember 2012

Monolog Dahsyat :D


SETIAKU DI ANTARA DUA

Oleh :
Erika Kurniawati Sholikah
XI IPA 4 / 09

Setting              : Senja itu, sembari matahari menyusup menuju peraduan peristirahatannya di   balik hamparan lautan, seorang wanita duduk membelakangi pohon – pohon kelapa yang berjajar. Tak ada nafas lain, hanya deburan ombak bersama niur yang melambai menemani tekanan yang bergenderang di batin wanita itu.


Karakter            : kaum hawa selalu menggunakan perasaannya dalam menyikapi suatu masalah, seperti halnya dengan si wanita ini, dia terlalu setia dengan suaminya hingga dia harus membiarkan kedzaliman yang di lakukan suaminya adala bentuk pengabdiannya sebagai seorang istri. Akhirnya si wanita itu hidup penuh dengan kebimbangan.


Monolog        :
Ini hidupku !
( Tertawa miris sejenak )
pengabdianku ini tak mungkin kan membawaku ke neraka ?
Tuhan itu tahu, maha tahu apa yang ada dalam hatiku
Aku telah di takdirkan hidup bersama dirinya, mendampinginya dalam  keadaan 
susah ataupun duka, mengabdi untuknya, menyerahkan segenap jiwaku, ragaku
dan bahkan mempertaruhkan nasionalismeku.
( Tertawa genting seakan itu penolakan dari tubuhnya yang hendak meneteskan air mata )
Tak mungkin aku berkhianat...
Aku anak bangsa, aku tumbuh di tanah pertiwi ini, lahir dari darah kebhinekaan.
Tapi, akupun harus mengabdi...
Aku telah berstatus menjadi seorang istri
( Berdiri masih menatap hamparan lautan sembari berucap dengan penuh emosi )
Aku ini bernasionalisme tinggi !
Aku mencintai beribu-ribu kebudayaan yang tertuang di negeri ini
            Oh suamiku...
             Aku mencintaimu dalam setiap hembusan nafasku
             Aku mencintaimu dalam setiap pandangan mataku
             Aku mencintaimu dalam setiap malam yang kita lalui
bersama
( Tercengang )
Hah ? Apa ?
Aku telah mendzolimi negeriku sendiri
Aku memang bersuami seorang yang terpandang di negeri ini
Tapi kedudukannya telah membutakan nurani kecilnya, merampas setiap hak rakyat yang sepatutnya di makmurkannya
Aku geram melihat bibir suamiku tersenyum menenteng koper di setiap kepulangannya
Dan aku mengkutuk setiap rupiah yang diletakkan di telapak tanganku
Rasanya aku ingin sekali ak menjebloskannya di balik terali besi sana
Tapi hatiku, hatiku tak mampu memilih…
( Terduduk simpuh dengan mata berkaca-kaca )
Antara cintaku pada negeriku ?
Ataukah cintaku pada suamiku ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar