SETIAKU DI ANTARA DUA
Oleh :
Erika Kurniawati Sholikah
XI IPA 4 / 09
Setting : Senja itu, sembari matahari
menyusup menuju peraduan peristirahatannya di
balik hamparan lautan, seorang wanita duduk membelakangi pohon – pohon
kelapa yang berjajar. Tak ada nafas lain, hanya deburan ombak bersama niur yang
melambai menemani tekanan yang bergenderang di batin wanita itu.
Karakter : kaum hawa selalu menggunakan
perasaannya dalam menyikapi suatu masalah, seperti halnya dengan si wanita ini,
dia terlalu setia dengan suaminya hingga dia harus membiarkan kedzaliman yang
di lakukan suaminya adala bentuk pengabdiannya sebagai seorang istri. Akhirnya
si wanita itu hidup penuh dengan kebimbangan.
Monolog :
Ini hidupku !
( Tertawa miris sejenak )
pengabdianku ini tak
mungkin kan membawaku ke neraka ?
Tuhan itu tahu, maha tahu
apa yang ada dalam hatiku
Aku telah di takdirkan
hidup bersama dirinya, mendampinginya dalam
keadaan
susah ataupun duka,
mengabdi untuknya, menyerahkan segenap jiwaku, ragaku
dan bahkan mempertaruhkan
nasionalismeku.
( Tertawa genting seakan
itu penolakan dari tubuhnya yang hendak meneteskan air mata )
Tak mungkin aku
berkhianat...
Aku anak bangsa, aku tumbuh
di tanah pertiwi ini, lahir dari darah kebhinekaan.
Tapi, akupun harus
mengabdi...
Aku telah berstatus menjadi
seorang istri
( Berdiri masih menatap
hamparan lautan sembari berucap dengan penuh emosi )
Aku ini bernasionalisme
tinggi !
Aku mencintai beribu-ribu
kebudayaan yang tertuang di negeri ini
Oh suamiku...
Aku mencintaimu
dalam setiap hembusan nafasku
Aku mencintaimu
dalam setiap pandangan mataku
Aku mencintaimu
dalam setiap malam yang kita lalui
bersama
( Tercengang )
Hah ? Apa ?
Aku telah mendzolimi
negeriku sendiri
Aku memang bersuami seorang
yang terpandang di negeri ini
Tapi kedudukannya telah
membutakan nurani kecilnya, merampas setiap hak rakyat yang sepatutnya di
makmurkannya
Aku geram melihat bibir
suamiku tersenyum menenteng koper di setiap kepulangannya
Dan aku mengkutuk setiap
rupiah yang diletakkan di telapak tanganku
Rasanya aku ingin sekali ak
menjebloskannya di balik terali besi sana
Tapi hatiku, hatiku tak
mampu memilih…
( Terduduk simpuh dengan
mata berkaca-kaca )
Antara cintaku pada
negeriku ?
Ataukah cintaku pada
suamiku ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar